Posts

Kelana sang Bulan

Berapa banyak detik yang harus Ia lalui untuk menemukan kebahagiaan? Dengan berjalan? Atau hanya dengan berdiam? Semua ingatan yang diciptakan untuk menjadi harta dalam sebuah ikatan, terkubur dalam oleh ribuan butir rasa kecewa. Apakah semuanya tidak memiliki arti? Tidak seperti itu. Hanyalah tidak cukup. Mencari, dan terus mencari. Hingga perasaan dan logika sudah sampai di akhir perdebatan. Ia melepas genggaman, memandang dari jauh, lalu pergi. Ah, sang Bulan... Bahagianya hanya ada pada satu titik, diam tidak bergerak. Ketika gejolak lain datang seperti air bah, menyergap seisi jiwa, Dirinya hanyut, terbawa pusaran emosi riang yang Ia kira akan bertahan selamanya. Tenggelam, lalu menghilang.

Rindu yang Rusuh

Suaramu? Ah, tidak bisa dipungkiri bahwa Aku selalu senang mendengarnya dari balik teleponku. Kekehan kecilmu adalah bunyi syahdu yang masuk ke dalam telingaku. Sulit bagiku untuk tidak tersenyum setiap kali mengingatmu. Kepalaku penuh dengan rasa rindu yang tertumpuk, berat sekali. Pikiranku sesak dengan angan-angan ingin bertemu. Kemanapun Aku pergi, bayanganmu selalu mengikuti tiada henti. Muncul, dan muncul. Arrrgh! Resah, hatiku rusuh, gelisah. Ingin rasanya langsung melihatmu berdiri di depanku. Berlari, lalu mendekapmu, sembari menyembunyikan rona merah pipiku. Aku duduk terpaku, mataku sesekali berkedip. Waktu dan jarak benar-benar menguji kesabaranku. Bisakah hatiku tenang? Sepertinya tidak.

Pagi adalah...

Gemerisik daun, basahnya embun, dinginnya udara, bunyi tetes air, semerbak harum tanah, cahaya jingga di sela jendela. Pagi adalah prolog dari cerita setiap jiwa di Bumi. Pagi adalah awal untuk menjalani berbagai macam hari. Pagi adalah pembuka dari kisah yang dirajut masing-masing makhluk. Pagi adalah prelude yang mengawali kesedihan maupun kebahagiaan. Pagi adalah penggerak manusia untuk memulai segala urusan. Pagi adalah permulaan dari akhir yang tidak bisa diterka.

Kamu Suka Minum Teh?

 “ Kamu suka minum teh ?” “ Iya. ” Itulah sepenggal obrolanku dengannya. Aku akui, Aku lebih suka memberikan pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti: “ mau melakukan apa hari ini ?”, “ sudah makan ?”, “ sedang menonton apa ?”, dan sejenisnya; sebagai bentuk perhatianku; yang tidak jenuh Aku lakukan setiap hari. Tentu saja, Ia menjawabnya dengan sederhana pula. Mengatakan “ semangat ” Aku kira adalah salah satu keahliannya, dan, Aku menyukainya. Akupun menyukai senyumnya, Aku menyukai suaranya, Aku menyukai bagaimana Ia mahir dalam menyampaikan pikiran serta mengeluarkan perasaan dan emosinya; yang terkadang bisa membuatku terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata sebagai bentuk balasan energi yang sepadan, dan ada kalanya Aku merasa rendah diri karena ketidakmampuanku itu. Aku kagum. Karena tidak memiliki banyak pengalaman perihal interaksi dengan lawan jenis, Aku sempat kebingungan. Aku berusaha dengan membaca artikel-artikel dan bertanya kepada teman-temanku mengenai “ how to ” dan ...

Apa yang Aku Mengerti dari Perasaan Cinta?

“ Saya suka bagaimana hari berakhir yang dimulai bersamanya. ” ― Ancika Mehrunisa Rabu. Kalimat tersebut sangat melekat di kepalaku setelah menyelesaikan novel Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995 karya Pidi Baiq. Itulah ungkapan perasaan Ancika terhadap Dilan; sederhana, namun sangat bermakna. Yang bisa Aku mengerti adalah, perasaan cinta kepada seseorang itu tumbuh dari bagaimana Kita telah menganggap bahwa Ia sangat berharga. Berharga karena sosok dan pembawaan dirinya, kehadirannya, pola pikirnya, dan caranya memperlakukan Kita yang membuat Kita bahagia. Itulah yang terjadi pada diri Ancika. Terus terang, Aku ingin seperti Dilan dan bagaimana Ia kepada Ancika, hingga sampai pada saat Mereka saling berkata, “ Kamulah yang Aku mau. ” Aku belajar, dan sekarang pun masih, jika Aku ingin hubungan dan perasaan cinta yang Aku miliki kepada pasangan selalu ada dan vice versa , Aku harus berusaha membangun dan menjaganya dengan komunikasi yang sehat. Tentu saja untuk membangun komunikasi...

Menyapa 2009

Hai? Aku menyapamu kembali setelah 13 tahun berpisah. 2009 adalah tahun dimana Aku membuat blog ini sebagai tempat untuk menyimpan tulisan-tulisanku yang amat biasa, sebelum akhirnya semua dihapus karena beberapa alasan pada saat itu. Salah satunya adalah, Aku tidak percaya diri dengan hobiku sendiri. "Kenapa Aku menulis seperti ini?", "kenapa tulisanku tidak menarik?", dan pertanyaan lainnya yang hanya muncul dari pikiranku. Tetapi, ketika akhirnya Aku menyadari bahwa menulis adalah salah satu cara manusia untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya, tidak peduli bagaimana rangkaian kata yang dipilih, tidak peduli bagaimana gaya penyampaiannya, disaat itulah Aku menjadi mengerti; Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Dan sudah seharusnya, Aku menikmati bagaimana caraku menulis serta mencintai tulisanku sendiri. ― Banjarmasin, 12 Juni 2022

Kepada Kepalaku yang Riuh, Bisakah Kau Tenang?

Ah, bagaimana ini? Sungguh ramai sekali, berjejal masuk menjadi pikiran-pikiran tiada akhir. Tidakkah Kau merasa kasihan dengan raga yang mendampingimu? Ia terbawa lelah akibat hiruk-pikuk yang Kau sebabkan.